Jumat, 27 Oktober 2017

Keren Versi Suami Itu?



U: "Wiih, kereeen..." (sambil ngeliatin HP)

A: "Apanya yang keren?"

U: "Ini Bi, temen kuliah waktu PPKT lagi S2 di U*I." (sambil menyodorkan HP ke suami niat nunjukkin foto)

A: "Keren itu, jadi istri sholehah."

U: (Jleb!)


***


Selintas percakapan saya dan suami suatu sore, beberapa hari lalu.

Betul, saya kagum melihat teman saya sewaktu PPKT alias praktik mengajar sewaktu kuliah dulu yang kini sedang menempuh sekolah pascasarjana di sebuah universitas negeri di Bandung.

Jujur di dalam hati, saya baper, iri melihatnya bisa bersekolah lagi melanjutkan pendidikan setelah sebelumnya ia mengajar di Bangkok, Thailand. Teman saya ini jurusan Pendidikan Bahasa Inggris sewaktu kuliah strata-1 dulu. Pastilah sekarang dia ambil jurusan senada, sepintas melihat fotonya bersama teman-teman pasca-nya di instagram-nya yang gak sengaja lewat di beranda saya.

Malahan belum lama, saya habis baca postingan blogger Mba Leyla Hana tentang impian seorang IRT yang tetap bisa eksis sekalipun telah menjadi ibu. Mba Leyla di dalam tulisannya sempat membahas tentang OSD alias Oki Setiana Dewi yang sedang menempuh kuliah singkat dalam kegiatan pertukaran pelajar di Negara Jerman. OSD pun sedang ber-badan dua, loh.

Mama ter-baper lah -___-

Siapa yang gak baper, siapa yang gak iri melihat teman-teman kita yang dulu sama-sama main, tahu-tahu sekarang lagi di negeri yang itu, negeri yang ini, kuliah lagi, jalan-jalan ke sana-sini. Duh, Mama mupengs laaah.

Sedangkan, kita di sini masih bergelut dengan dunia per-rumahtanggan-an, mengurus pak suami beserta anak-anak yang maunya nempel terus kaya perangko sama emaknya. Masih berkutat dengan pertanyaan "Ma, handuk mana? Ayah mau mandi", "Ma, Ayah bagusnya pakai baju mana ya?", "Ma, kakak bagi uang dong buat jajan", "Ma, nonton youtube", dan segambreng celotehan lainnya yang setiap hari menjadi irama di dalam rumah.

Saya pikir perasaan itu manusiawi juga, tandanya kita masih normal sebagai manusia, sebagai perempuan tentunya, karena perempuan kan memang lebih banyak menggunakan sudut perasaan-nya ketimbang sudut logika. Memang sudah dari sananya begitu, sudah fitrah.

Percakapan sore itu dengan suami jujur aja bikin makjleb hati saya. Saya pun gak ada maksud apa-apa mengatakan "ke-keren-an" teman saya yang sedang S2 itu. Hanya sebatas kagum. Toh, saya pun pernah mengutarakan impian saya yang ingin bisa melanjutkan pendidikan lagi kepada suami. Pun suami mendukung karena dia tahu istrinya ini senang sama belajar hal baru, namun saya dan suami tetap sepakat bahwa hal itu bisa dilakukan ketika kondisi memang sudah memungkinkan, misalnya saja saya harus menunggu anak-anak besar dan sudah mampu memahami "kegiatan" ibunya itu. Selain itu, saya maupun suami harus mendahulukan hal yang lebih prioritas saat ini, misalnya menyelesaikan pembangunan rumah yang  masih dalam proses.

Menunda waktu, itulah yang kini sedang saya tempuh. Menunda sejenak impian yang semua orang bisa meraihnya termasuk saya ataupun Anda. Melanjutkan pendidikan.

Bagi saya pribadi, selain karena ilmu, melanjutkan sekolah lagi seperti sebuah kebutuhan dalam mengembangkan dan menambah kompetensi saya sebagai seorang guru.

Yup, menjadi seorang guru adalah salah satu jalan yang saya pilih untuk mengamalkan ilmu yang telah saya raih di bangku kuliah. Bukan berarti saya lepas tanggung jawab sebagai IRT. Klarifikasi duluan sebelum di-nyinyirin. Haha, soalnya ini bahasan yang gak ada habisnya diantara ibu-ibu zaman now: Ibu bekerja vs IRT. Sampai kiamat kayanya gak akan selesai. :D

Selain mengamalkan ilmu, tentu saja kebutuhan akan sosok guru perempuan dibutuhkan di dalam dunia pendidikan kita, karena sudut pandang yang berbeda dalam melakukan hal-hal tertentu pastinya diperlukan. Coba bayangkan, kalau semua guru laki-laki, siswi mau cerita ke siapa untuk hal-hal yang menyangkut privasi perempuan, misalnya.

Jadi, profesi ini saya teruskan sampai saat ini meskipun telah memiliki 2 orang anak. Bersyukurnya, suami memberikan ridho dan restunya kepada saya untuk tetap menjalankan aktivitas sebagai seorang guru.

Jujur saja, profesi yang satu ini masih terbilang fleksibel. Mengapa fleksibel? Karena jam mengajar saya paling lama hanya full 6 jam dalam sehari, di hari lain saya malah cuma mengajar selama 6 dan 4 jam. Yang mana kalau full jam mengajar, jam 2 siang paling lambat saya sudah di rumah. Hal ini tentu saja membuat saya tetap bisa mengurus rumah dan anak-anak. Pun kalau terpaksa harus sampai sore, misalnya saja ada rapat di sekolah atau mengerjakan tugas-tugas harian dan musim semester, itu hanya sesekali waktu. Kondisi ini membuat saya tetap bersyukur masih bisa bermain sama anak-anak dan memasak untuk mereka dan abbi-nya.


Saya tidak sedang mendiskreditkan para ibu yang bekerja office hour 8 jam nontop ya.

TIDAK.

Saya rasa kembali ke pilihan yang kita ambil dan pastinya sudah melewati diskusi panjang dengan pasangan. Termasuk siap menerima konsekuensi dari pilihan yang diambil.

Kembali ke ucapan suami tentang "keren" versi-nya. Hal ini jadi bikin saya mikir, jangan-jangan saya belum jadi "istri sholehah" nih?! Mwahaha, Mama sedih deh *meres aer mata*

Pernah gak Bu Ibu tanya suami tentang keren versi mereka? Mungkin, kalau saya pukul rata, setiap keinginan suami itu semuanya hampir sama ya. Pada intinya suami berharap sang istri bisa menjalankan segala titah yang diberikan.

Kalau kembali ke kodrat, dalam agama Islam istri memang wajib menuruti perintah suami. Malah, kata Rasulullah SAW. menjadi istri sholehah itu caranya mudah sekali hanya menjalankan 4 hal ini istri bisa masuk syurga dari pintu mana saja yang ia mau.

1. Menjalankan sholat 5 waktu,
2. Menjalankan puasa di bulan Ramadhan,
3. Menjaga kehormatan diri, dan
4. Menjalankan perintah suami (taat).

Lihatlah, sekilas 4 hal tersebut mudah untuk dijalani bukan? Karena memang telah menjadi rutinitas kita sehari-hari. Tapi, kalau boleh jujur nih, poin nomor 4 adalah poin yang susah-susah gampang bagi saya pribadi.

Bagaimana dengan Bu Ibu sekalian?

Saya pernah bertanya hal yang sama dengan seorang kakak yang sudah saya anggap seperti guru dan panutan, beliau bahkan mengatakan "taat pada suami" adalah suatu hal yang tidak mudah, tapi juga tidak sulit.

Kalau yang sudah menikah mungkin bisa menilai dan mengukur sendiri sejauh apa tingkat ketaatan dan ukuran sulitnya. Tentu saja setiap orang (istri) punya kadar pengukuran yang berbeda-beda.


Sejenak saya pernah berpikir, bahwa setiap suami menginginkan istri yang taat kepadanya. Karena jelas di dalam rumah tangga dia-lah yang menjadi pemimpin. Sehingga, lumrahnya pemimpin ada untuk ditaati. Ya secara ego kelaki-lakian, memang demikian adanya kan. Yaa Sebagai istri yang baik, memang tugas kita untuk mentaati suami selama setiap perintahnya tidak bertentangan dengan syari'at agama. Ridho suami ibarat sebuah kunci buat istri agar pintu syurga bisa terbuka untuk kita. Yaa kalau dulu sebelum nikah ridho kita ada di orangtua, sekarang udah harus tahu mana yang jadi prioritas lebih dulu dong ya.

Sehingga, kalau dari analisa cetek saya, bagi suami keren itu ketika istri bisa menjalankan perintah suaminya. Sebagaimana yang saya tangkap dari ucapan suami saya sendiri. :D

Meskipun makjleb di hati, tapi jadi evaluasi diri sendiri mendengar apa yang diungkapkannya secara spontan. Makasi ya Paksu :D

Atau mungkin secara langsung kita memang belum pernah denger suami bilang kepada kita istri "keren" versi dia. Tapi percayalah, taatnya kita bikin suami bahagia, ridho dan pastinya keren dunia akhirat. Kalau keren secara umum memang biasanya istri itu jago masak, jago bikin ini itu, dan kejagoan lainnya. Tapi, saya yakin itu gak wajib ya, hahaha. 

Jadi, jangan baper lagi, ya Mak. Nikmati kesempatan yang ada dan sedang berlangsung saat ini, insya Alloh tetap keren sekalipun hanya di rumah. :)


Nah, Bu Ibu, gimana nih keren versi pak suaminya?


Salam
Amelia Fafu - Mama Energic





20 komentar:

  1. kalau suami saya sih lebih senangnya kalau saya di rumah dan mengurus anak-anak, karena saya gak mau melewatkan lucu-lucunya tindakan anak waktu kecil karena kebahagian itu kita yang ciptain.

    BalasHapus
  2. Puk puk, Amel jangan baper. Aku juga nahan2 pengen ini itu banyak sekali, apa daya atulah kalau udah ada anak2. Pasrah aja lillahitaala sekarang mah.

    BalasHapus
  3. Kalau aku ngomentarin tulisan malah bukan tentang keren versi pasangan. Tapi lebih pada bagaimana pere berperan tuk jadi keren dimata pasangannya. Bakal beda2 kan. Bakal keren pere itu kalau sudah menemukan apa yang membuat dia keren. Jadi kalau diatas tadi nulis " sementara masih bergelut bla bla...berarti belum ketemu yang keren. Yuk akh cari! 😄😆😅

    BalasHapus
  4. Hihihihi.... Aku juga suka kepo loh mb klo suami suka bilang "keren nih!". Kepo sm curiga nya 60:40. . .

    BalasHapus
  5. Wow...guru itu kan pahlawan tanpa tanda jasa. Beberapa tanteku jadi guru juga loh dan aku bangga sekali. Alhamdulillaah ya pekerjaan Bu Amel diridhai suami 😊 ga jago masak jiga keren lah versi pak suami hahaha... yang penting semua beres. Anak2 juga dididik dengan sangat baik di rumah. Mantap 😊😊

    BalasHapus
  6. Keren versi suamiku ya tentunya aku, mba. Hahhaaa
    Sebaik-baiknya manusia adalah yang bermafaat bagi yang lain dan semoga kita menjadi muslimah yang selalu bermanfaat bagi sesama mba :)

    BalasHapus
  7. Peluk ka Amel.. ka jangan baper dong ka.. eh ngga apa-apa sih baper asal jangan kelamaan yess.. kalo aku sedang baper biasanya ngomong gini ke diri sendiri "semua orang itu punya jalannya masing-masing, InsyaAllah nanti akan ada jalan yang indah buat saya". Gitu terus aja mba diulang-ulang hehe..

    BalasHapus
  8. Keren versi suamiku juga sama. Jadi istri Solehah di rumah, urus anak. Makanya aku gak kerja 😆 masing2 suami punya versi kerennya sendiri asal jangan sampai melalaikan kewajiban sebagai orangtua. Btw, ternyata ada nama saya disebut 😆

    BalasHapus
  9. Aku juga pernah ngalamin jd full time mom. Sejak hamil anak pertama sampai anak kedua berumur 6 tahun, aku dirmh saja. Mengurus anak dan rumah. Setelah anak yg kedua SD br mulai aktivitas lagi. Itupun bertahap dan tetap menghandle urusan rumah namun bs tetap eksis. Kerjasama keluarga sih intinya.

    BalasHapus
  10. Tulisannya mak jleb bangeeettt.
    Aku pun sering terbersit rasa iri liat tmn2 yg punya karier cemerlang, bisa eksis di luar sana, sementara aku jg merasa hidup gini2 aja.

    Ya, mungkin akunya yg kurang bersyukur...

    Kata org sbnrnya mungkin mereka yg di luar sana jg iri krn mungkin kita lbh banyak menghasbiskan waktu sama anak2 di rumah.

    Hidup emang sawang sinawang, kalau kata org Jawa. Kuncinya ya itu tadi, optimis nanti kita akan punya "masa" sendiri ya...

    BalasHapus
  11. Peluk ameeeel.. jadi guru tuh profesi paling kereeen dunia akhirat. Karena ilmunya jadi ilmu bermanfaat dengan pahala yg terus mengalir sampai kapan pun. Soalnya profesi yg sering disebut dlm Al Quran cuma 2 : guru dan pedagang.

    Intinya bersyukur dengan nikmat yang kita dpt, insya Allah indah semua yg harus kita jalani di dunia ini. Apalagi suami ridha. Dah.. bahagia dunia akhirat deh. ^_^

    BalasHapus
  12. Semangat Amel, ada masanya koq Mel, yanh penting semua sehat aman terkendali eaahh, kalau kata suami aku isteri keren itu yaa aku, hihi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyaa Mba Nunu, musti sabar ya, kaya Mba Nunu nih anak udah pd gede skrg udah enak rasanya ya mba

      Hapus
  13. Poin 4 itu loh taat hihihihi keren lah klo dijalani maksimal

    BalasHapus
  14. kalau suamiku pokoknya aku keren, soalnya katanya kalau kebanyakan lihat orang mah gak bakal selesai2 nafsu ingin ini itunya kwkwkw...

    BalasHapus
  15. Suami saya juga bilang gitu. Tapi solikha versinya di rumah ajah gak usah kerja. Kan dia pencari nafkah, inshaAllah selalu dicukupkan oleh Allah. Baper sih liat teman2 pada kerja...tapi yaudahlah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Gapap Mba. Insya Allah meski di rumah tetep jadi ibu keren. I love ibu rumah tangga :)

      Hapus