`

Saya seringkali ditanya tentang eye liner yang saya pake sama temen-temen. Padahal saya pakai cuma pas ngajar atau kondangan, itupun kadang-kadang kalau lagi sempat dan keburu makenya. 

Memakai eye liner bagi saya itu susah, apalagi harus dibikin sama antara mata kanan dan kiri dan belum lagi kalau hasilnya meleber mata jadi hitam belepotan. Pernah praktekin, aduh kok susah ya! Jadi saya gak akan pilih eye liner yang bentuknya cair, gak bisaaa pakenya. Hhhhh


Tak ku sangka, berita kepergianmu mendarat di telinga ini. Sosok lelaki mulai renta yang sudah kuanggap layaknya bapakku sendiri.



pixabay.com



“Hidup itu murah, yang mahal adalah gayanya.”





Pernah mendengar kalimat tersebut? Pastinya pernah. Saya pun jadi berpikir dan membenarkan dalam hati saat membaca kalimat tersebut, jangan-jangan selama ini saya hanya mementingkan gaya hidup saja nih. Beli ini beli itu yang sejatinya sekedar keinginan bukan untuk kebutuhan. Asli saya jadi merenung dan coba mengkoreksi diri.


"Bu Amel, Kok mukanya kuseman ya?" Ucap seorang teman mengajar.


***


Saya adalah seorang guru di sebuah sekolah menengah kejuruan swasta di daerah Parung. Selain tugas utama saya sebagai ibu rumah tangga, menjadi guru sudah seperti passion yang "gue banget". Saya suka bertemu dengan banyak orang dan menjalin hubungan yang baik. Siswa-siswi yang mulai beranjak dewasa pun menjadi teman-teman saya sehari-hari selama di sekolah, selain dewan guru lainnya tentu saja. Menghadapi mereka yang mulai beranjak dewasa membutuhkan ekstra ilmu, tenaga, bahkan adakalanya perlu bumbu ini itu. Anak-anak usia 16-18 tahun ini lebih suka jika kita memposisikan diri sebagai teman, sehingga keakraban pun bisa terjalin.