Rabu, 26 Juli 2017

Imunisasi MR (Campak Rubella) Untuk Melindungi Generasi, Kini dan Nanti




Setiap ibu menginginkan anaknya lahir dengan sempurna tanpa kekurangan satu apapun. Sebab, bagi setiap orangtua anak merupakan anugerah terindah dari-Nya dalam kehidupan dan melahirkannya ke dunia adalah kebahagiaan yang paripurna. Lalu, bagaimana jika anak yang terlahir tidak
sempurna atau bahkan ia 'pergi' sebelum sempat kita menyapanya?

Mba Grace Melia, seorang ibu muda yang memiliki anak perempuan terlahir dengan cacat bawaan. Mulai dari tuli, kebocoran jantung, spastik (anggota gerak kaku), dan kondisi lainnya yang kesemuanya menghambat pertumbuhan dan perkembangan Ubii, anaknya. Apakah penyebabnya?

Hari Jumat tanggal 21 Juli lalu bertempat di Parklane Hotel di bilangan Menteng Jakarta, saya dan rekan-rekan blogger berkesempatan datang atas undangan dari Kemenkes RI. Ada apakah gerangan? Kemenkes RI menggandeng para blogger untuk mengkampanyekan sekaligus mengenalkan tentang imunisasi vaksin yang akan diluncurkan dalam waktu dekat ini. Tiga narasumber yang hadir saat acara berlangsung yaitu dr. Jane Soepardi, Direktur Surveilans dan Karantina Kesehatan Ditjen P2P Kemenkes RI, dr. Hindra Irawan Satari dari IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia), dan Dr. HM. Asrorun Ni'am Sholeh, MA., Sekretaris Komisi Fatwa MUI Pusat.

Dari Kiri ke Kanan: dr. Hindra (IDAI), Dr. Asrori Ni'am (MUI Pusat), dr Jane (Kemenkes RI)


Sebelum narasumber memberikan penjelasan tentang imunisasi baru, kami para blogger terlebih dulu ditampilkan video secara singkat tentang perkembangan Ubii yang menderita Congenital Rubella Syndrome (CSR) atau cacat bawaan lahir karena saat ibunya mengandung terinfeksi rubella.

Tidak kuasa membendung air mata agar tidak keluar. Melihat Ubii, pikiran saya langsung mengarah kepada anak saya Anin Dhifah. Ia yang akan 3 tahun pada September nanti, mengalami pengapuran otak karena infeksi Virus CMV (virus kelompok TORCH -TOxo, Rubella, Cmv, Herpes simplex- yang berbahaya bagi ibu hamil). Kisahnya nanti akan saya buat terpisah ya.

Peserta menyaksikan video perkembangan Ubii.


Back to vaksin baru yang akan diluncurkan bulan Agustus nanti. Pemerintah akan mengkampanyekan imunisasi yang bernama Imunisasi Vaksin Campak dan Rubella atau di singkat Vaksin MR (Measles Rubella). Vaksin MR ini befungsi untuk mencegah penyakit campak dan rubella di rentang usia 9 bulan sampai dengan 15 tahun.

"Indonesia menjadi salah satu dari 10 negara penyumbang terjadinya penyakit rubella dengan 4000 kasus yang terjadi. Sehingga, imunisasi ini perlu diluncurkan agar di tahun 2020 Indonesia bisa bebas dari penyakit campak dan rubella." Ucap dr. Jane saat memaparkan materi.

Ia juga menambahkan, bahwa kegiatan ini dikampanyekan secara massal tanpa memandang status imunisasi sebelumnya sebagai upaya memutus transmisi penularan virus campak dan rubella pada anak-anak usia 9 bulan sampai dengan < 15 tahun dan agar keberhasilannya bisa mencapai 95%. Jadi, bagi anak yang sudah mendapatkan vaksin campak (M), tetap mendapatkan imunisasi MR ini. Sehingga, setelah masa kampanye selesai, semua vaksin campak akan dikombinasikan dengan vaksin campak (M) dan rubella (MR), jadi tetap bisa didapatkan secara GRATIS di posyandu-posyandu.

Tujuan dari kampanye imunisasi MR ini, yaitu:
  1. Meningkatkan kekebelan masyarakat terhadap campak dan rubella secara cepat
  2. Memutuskan transmisi virus campak dan rubella
  3. Menurunkan angka kesakitan campak dan rubella
  4. Menurunkan angka kejadian CRS (Conginetal Rubella Syndrome)

Pengertian Penyakit Campak dan Rubella, Gejala, dan Bahayanya

• Penyakit Campak 
Campak atau tampek (dalam sebutan masyarakat awam) adalah suatu infeksi virus yang sangat menular yang disebabkan oleh Paramixovirus. Gejalanya: demam, bercak kemerahan, batuk pilek, konjungtivitis (mata merah) dan selanjutnya timbul ruam pada muka dan leher, kemudian menyebar ke tubuh, tangan dan kaki. Kejadian tinggi menyerang anak usia 5-9 tahun. Jika diimunisasi maka kekebalannya bisa bertahan seumur hidup. Atau jika anak tetap terserang meskipun sudah di imunisasi maka kejadian dan komplikasi berat yang disebabkan oleh campak bisa dihindari. Komplikasi berat meliputi radang paru, radang otak, radang telinga, dehidrasi, bahkan kematian. 

dr. Hindra (IDAI) mengatakan, jika anak yang sakit campak sampai meninggal, itu bukan dari campaknya tetapi dari komplikasi berat yang ditimbulkan. Karena, campak terjadi di 1 minggu pertama dengan gejala dan disertai demam. Setelah itu, demam akan turun, lalu muncul ruam atau bintik kemerahan sampai berubah coklat kehitaman. 

Cara penularannya sangat mudah, jika anak sehat menghirup percikan ludah dari anak lain yang sedang terinfeksi campak melalui jalan nafas (hidung, mulut, tenggorokan). Nah, biasanya kalau ada anak sakit campak sebaiknya tidak meludah sembarangan dan hindari keluar rumah. Semata agar virusnya tidak tersebar dan menulari orang-orang disekitar terutama kelompok anak-anak.

Ada satu kisah di Inggris (saya lupa nama ibu dan anaknya karena tidak dicatat), seorang ibu yang memiliki anak perempuan. Anak perempuannya lahir sehat, normal, bahkan anaknya ini tumbuh menjadi anak yang cerdas dan berhasil lulus dengan predikat sebagai mahasiswi terbaik dari King's College University. Ternyata, anak tersebut terinfeksi campak. Seminggu sakit lalu sembuh. Singkat cerita, suatu hari ia merasa tidak enak badan, pusing, dan demam. Ia dan ibunya mengira hanya sakit biasa. Sampai pada ketika ia tiba-tiba jatuh dan lumpuh. Setelah diperiksa dokter, ternyata anak dari ibu tadi menderita Subacute Sclerosing Pan Encephalitis atau komplikasi berat penyakit campak, yaitu radang otak. Setelah ditelusur, ternyata anak tersebut tidak pernah di imunisasi campak saat masih kecil. Kondisinya saat ini sangat memprihatinkan layaknya seorang bayi baru lahir yang tidak bisa berbuat apapun, lumpuh dan tidak bisa merespon apapun di sekitarnya.

Menurut dr. Hindra (IDAI), kemungkinan komplikasinya lebih berat akibat yang ditimbulkan dari penyakit campak jika anak tidak pernah mendapat imunisasi sebelumnya dibanding pernah diimunisasi.

• Penyakit Rubella
Adalah penyakit infeksi virus akut, sangat menular yang biasanya berupa penyakit ringan pada anak. Penyebabnya adalah virus rubella. Penularannya melalui udara lewat batuk dan bersin.

Walaupun berupa penyakit ringan, seperti demam, batuk, pilek, flu, badan pegal, penyakit rubella ini sangat berbahaya jika menular ke ibu hamil pada trimester pertama, karena bisa menyebabkan keguguran atau kecacatan pada bayi yang dilahirkan yang dikenal dengan Sindroma Rubella Kongenital atau Congenital Rubella Syndrome (CRS). Inilah yang terjadi pada Ubii, anak dari Grace Melia. Cerita lengkapnya kamu bisa baca di sini.

Ubii sedang latihan berdiri dengan standing frame
Sumber Gambar: Ig @grace.melia


Mengenal Congenital Rubella Syndrome (CRS)

CRS adalah sindrom kecacatan pada bayi baru lahir yang dapat berupa kebocoran pada jantung, kebutaan, ketulian, dan kerusakan mental. Penyebabnya adalah infeksi virus rubella pada ibu hamil.

Cara penularannya adalah ibu hamil yang positif terinfeksi rubella akan menulari janin melalui plasenta. Jika tertular di usia kandungan (UK) < 12 minggu maka risiko janin tertular sebesar 80-90%, tetapi jika tertular di UK 15-30 minggu risiko janin tertular 10-20% dengan masing-masing akibat yang sudah disebutkan sebelumnya.

Bayi yang lahir karena infeksi virus rubella, tampak ruam dan bintik kecoklatan pada tubuhnya


Imunisasi Vaksin MR

Vaksin MR adalah vaksin yang berupa virus hidup yang dilemahkan. Metodenya, campak (Measles) pada embrio ayam dan rubella (Rubella) pada stem cell (sel punca) manusia. Bentuknya berupa serbuk kering dengan pelarut. Setelah dilarutkan, vaksin bisa digunakan sampai 6 jam, disimpan pada suhu 2-8°C.

Ada ketakutan di beberapa kalangan, tentang akibat dari vaksin MR ini yaitu jika disuntikkan ke tubuh lalu anak tersebut akan sakit, karena menganggap "virus hidup yang dilemahkan" tadi. Hal ini TIDAK BENAR. Jadi, jika nanti vaksin disuntikkan ke anak, maka tubuh akan merespon dengan memproduksi antibodi atau kekebalan tubuh bagi virus MR. Sehingga, harapannya adalah ketika ada infeksi virus MR alias campak rubella, tubuh anak sudah mengenali si virus dan infeksi pun bisa di lawan. Jadi, orangtua tidak perlu khawatir dan takut jika anak akan diimunisasi.

Pelaksanaan dan Sasaran Kampanye Imunisasi Vaksin MR

Kampanye imunisasi vaksin MR ini dibagi menjadi 2 tahap dan ditukukan bagi anak usia 9 bulan sampai dengan 15 tahun. Untuk Pulau Jawa, bagi anak yang berusia sekolah kampanye akan berlangsung pertama pada bulan Agustus 2017 di sekolah-sekolah, seperti PAUD/TK, SD/MI, SMP/MTs dan SDLB kelas 1. Kedua, bulan September 2017 dilaksanakan di pos-pos pelayanan kesehatan. Sedangkan, untuk luar Pulau Jawa, dilaksanakan pada Agustus-September tahun 2018.

Diingatkan lagi ya, imunisasi ini tidak memandang status imunisasi sebelumnya, jadi tetap berlaku bagi anak yang sudah mendapatkan vaksin campak. Dan, catatan penting buat para ibu supaya tidak keliru, ke depan vaksin MR ini akan menjadi imunisasi rutin yang melengkapi vaksin campak (M) di usia bayi 9 dan 18 bulan, sehingga bisa didapatkan secara gratis di pos-pos pelayanan imunisasi, seperti posyandu, polindes, poskesdes, Puskesmas, RS dan tempat pelayanan kesehatan lainnya di lingkungan tempat ibu-ibu tinggal. Jangan lupa bawa buku KIA-nya ya, Bu! Hehehe

Peran Guru Mensukseskan Kampanye Imunisasi MR

Di sekolah, peran guru sangat penting bagi keberhasilan kampanye ini. Sayangnya, saya bukan guru pendidikan dasar. Tetapi, saya berharap kepada rekan-rekan guru yang mengajar di sekolah dasar, mereka bisa bekerjasama secara optimal dengan pihak tenaga kesehatan setempat. Guru diharapkan melakukan hal-hal berikut ini, agar tujuan kampanye tercapai, yaitu:

1. Memberikan informasi kepada orangtua/wali murid tentang diadakannya pemberian imunisasi massal dengan membuat surat edaran yang berisi manfaat imunisasi MR dan tanggal pelaksanaannya.

2. Membantu memberikan penyuluhan kepada orangtua/wali/murid

3. Memberikan data murid yang akan diberikan imunisasi termasuk data anak yang putus sekolah

4. Menyeleksi anak yang berumur < 15 tahun dan anak yang sedang sakit atau tidak masuk sekolah karena alasan lainnya

5. Membantu menyiapkan ruangan untuk penyuntikan dan ruang tunggu setelah penyuntikan 

6. Mengatur alur pelayanan imunisasi

7. Membuat tanda selesai imunisasi pada anak di jari kelingking bagian bawah, misal dengan menggunakan bak stempel atau pen marker

8. Melaporkan pada petugas bila ada hal-hal yang tidak sesuai


Beda Vaksin MR dan MMR

MMR adalah Mumps, Measles, Rubella. Vaksin MR dan MR tidaklah berbeda. Hanya saja pada kampanye nanti, tidak ada vaksin untuk Mumps atau penyakit gondongan. Sebab, saat ini pemerintah memprioritaskan pengendalian campak dan rubella karena bahaya komplikasinya yang berat dan mematikan.

Sebelum adanya imunisasi MR dari pemerintah ini, biasanya imunisasi MMR hanya mampu dilakukan oleh kalangan masyarakat ekonomi menengah keatas dan hanya ada di rumah-rumah sakit dengan dokter spesialis anak (DSA) karena biaya yang mahal dan belum disubsidi. Sekarang, kita patut bersyukur karena sebentar lagi masyarakat bisa mendapatkan fasilitas imunisasi MR tanpa dipungut biaya.  

Vaksin MR (MMR), menyebabkan autisme?

Tidak benar. Tidak ada data ilmiah yang menunjukkan adanya kejadian autisme setelah mendapat vaksin MR. Apa yang tersiar adalah hoax. Seorang ilmuan berkewarganegaraan Inggris bernama Andrew Wakefeld yang sempat mengabarkan kepada publik bahwa vaksin MR menyebabkan autisme adalah suatu kebohongan besar dan tidak bisa dibuktikan secara ilmiah.

Vaksin Halal?

Halal. Dr. Asrori (MUI Pusat) mengatakan bahwa imunisasi adalah boleh (mubah) sebagai jalan ikhtiar (usaha) mewujudkan kekebalan tubuh agar terhindar dari suatu penyakit tertentu. Hal ini sudah dituangkan dalam Fatwa MUI No.4 Tahun 2016 yang dikeluarkan pada tanggal 23 Januari 2016 tentang Imunisasi. Terkait imunisasi, dalam Islam hal ini masuk dalam ranah "tanggung jawab sosial". So, kita juga punya tanggung jawab menjaga kesehatan yang dimulai dari keluarga kita agar tidak menularkan penyakit kepada orang lain.

Sebelum vaksin, perhatikan hal-hal berikut yaaa




Soooooo, Ibu-ibu jangan ragu ajak anak-anak kita di bulan Agustus dan september nanti ikut serta imunisasi MR yaa. Yuuuk!



21 komentar:

  1. Menjadi tanggung jawab kita bersama untuk menciptakan lingkaran sehat bagi sesama dan lingkungan sekitar
    Pemberian imunisasi adalah salah satu langkah nyata untuk itu. Jadi harusnya gak ada keraguan lagi soal ini
    Semoga program imunisasi ini berjalan lancar ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga gak ada yg ragu lagi setelah tahu info yg benar ya mba :)

      Hapus
  2. Terima kasih informasi dan sharingnya neng Amel :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama sama mba aiss. Jangan luoa ajak anak dan tetangga buat ikut imunisasi ya :)

      Hapus
  3. nunggu september buat imunisasi mada, informasinya dapet banget dari acara kemarin ya mbak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama mba maria, nunggu september juga..

      Hapus
  4. Teh amel waktu hamil hamil Anin ciri sakitnya kayak gmn? Teh amel nular dr orang lain? Trus teh amel sakit jg trus nular ke anin gtuu?

    Jd mending klo kita hamil muda drumah aja ya jgn dkt2 orang sakit yaa. Takut nular yaa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Panjang Ayu ceritanya, pan kapan di post tulisan ttg Anin :)

      Hapus
  5. Penting sekali nih mba imunisasi MR kepada anak. terima kaish tulisannya mba :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya penting sekali. Sama sama Mba Al semoga manfaat..

      Hapus
  6. Yuk, kita sukseskan kampanyw imunisasi MR 2017 dan seterusnya! Semoga seluruh orangtua dan masyarakat semangat mendukung program pemerintah ini ya mbak Amel. Biar Indonesia makin berkurang penyakit2 yang berbahaya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin. Semoga 2020 bisa bebas campak rubella ya Mba :)

      Hapus
  7. Semoga ada di sekolah anakku bulan Agustus nanti. Smoga makin banyak anak2 yg terhindar dari Rubella.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yuk, ajak juga ibu2 supaya anaknya mendapat vaksin MR ya mba. Thanks udah mampir mba :)

      Hapus
  8. Aku setuju nih, guru-guru di sekolah diharapkan bisa menjadi perpanjangan tangan pemerintah dalam sosialisasi dan kampanye Imunisasi MR. Mudah-mudahan nanti pada saatnya imunisasi, semua berjalan lancar.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin. Semoga lancar pelaksanaannya di sekolah juga pos pos kesehatan ya mba supaya Indonesia bebas MR :)

      Hapus
  9. Imunisasi ini memang penting sekali ya mba, tp knp masih banyak orang tua yang mengabaikan atau malah anti imunisasi. Padahal MUI sudah jelas2 mensahkan UU nya. Yah semoga nanti semakin banyak org tua yg sadar akan hal ini.

    BalasHapus
    Balasan
    1. AAmiin. Semoga imunisasi besok, gak ada acara tolak menolak ya mba :)

      Hapus
  10. makasi banyak mamam energic atas tulisannya.
    aku jadi lebih jelas lagi ttg vaksin MR. Mudah-mudahan anakku sehat selalu. Mau ikutan vaksin MR. vaksinnya berenti di vaksin campak aja soale :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama sama mba. Alhamdulillah, kalo gitu nanti jangan sampe gak ikuy vaksin anaknya :)

      Hapus
    2. Sama sama mba. Lanjut vaksin MR biar komplit :)

      Hapus