Sabtu, 23 September 2017

Lakukan 5 Cara Plus Ini Untuk Menyelamatkan Keuanganmu dari Jebakan “Middle Income Trap”



pixabay.com



“Hidup itu murah, yang mahal adalah gayanya.”





Pernah mendengar kalimat tersebut? Pastinya pernah. Saya pun jadi berpikir dan membenarkan dalam hati saat membaca kalimat tersebut, jangan-jangan selama ini saya hanya mementingkan gaya hidup saja nih. Beli ini beli itu yang sejatinya sekedar keinginan bukan untuk kebutuhan. Asli saya jadi merenung dan coba mengkoreksi diri.




Kita seringkali terjebak dalam “gaya hidup” yang tanpa sadar membuat kita rela jor-joran mengeluarkan uang demi beberapa hal seperti penampilan, bisa makan di tempat enak supaya kekinian, dan bisa punya barang-barang branded biar kelihatan fashionable atau predikat “orang kaya”. Padahal, semua hal-hal itu sifatnya sunnah alias gak harus, bahkan bisa jadi bukan kebutuhan.



Namun, demi meraih itu semua kita seringkali menutup mata pada kenyataan bahwa penghasilan kita belumlah mencukupi untuk memenuhi gaya hidup ala kalangan atas, yang ada jadi terkesan dipaksakan. Katakanlah, penghasilan 4 juta rupiah per bulan, tapi pengeluaran mencapai 6 juta rupiah, sehingga kita rela hutang sana-sini untuk memenuhi nafsu belanja dan rela gali lobang tutup lobang.



Kalau sudah begitu kita jadi rajin mengamalkan peribahasa besar pasak daripada tiang alias besar pengeluaran daripada pendapatan. Hehehe. Tiap bulan seperti ini, capek juga dong. Penghasilan habis gitu-gitu aja tanpa bekas apalagi bukan untuk hal-hal yang bermanfaat. Kenyataan ini bisa terjadi jika kita gak pandai mengatur perencanaan keuangan yang kita miliki loh. Makanya, penting banget melek literasi keuangan supaya kondisi keuangan kita selalu dalam keadaan yang “sehat”.



Pada tanggal 9 September 2017 yang lalu, saya berkesempatan hadir dalam acara KEB Gathering bersama Sinarmas MSIG Life yang bertajuk Smart Mom, Protect Your Family’s Smile dengan tema “Yuk, Atur Uangmu”  bertempat di JSC Hive Coworking Space di bilangan Kuningan, Jakarta Selatan. Materi yang dibahas salah satunya tentang Edukasi Keuangan oleh Mas Aakar Abyasa Fidzuna yang merupakan CEO/Founder Jouska Financial.



Menurut Otoritas Jasa Keuangan (OJK), indeks literasi keuangan masyarakat Indonesia masih terbilang rendah, kurang lebih baru mencapai angka 30%. Lalu,apa itu literasi keuangan? Literasi keuangan bisa diartikan sebagai kecakapan atau kesanggupan dalam hal keuangan.

Maksudnya adalah masyarakat sudah memiliki pengetahuan dan keyakinan tentang lembaga jasa keuangan serta produk jasa keuangan, termasuk fitur, manfaat dan risiko, hak dan kewajiban terkait produk dan jasa keuangan, serta memiliki keterampilan dalam menggunakan produk dan jasa keuangan (well literate). Dalam hal ini, contohnya masyarakat sudah menggunakan produk dari jasa keuangan dalam bentuk asuransi, misal asuransi kesehatan atau tabungan pendidikan anak, dan lain-lain.



Menurut Mas Aakar Abyasa, masyarakat Indonesia itu masih banyak terjebak ke dalam lingkaran middle income trape. Biasanya kalau kita sudah bekerja dan mempunyai penghasilan katakanlah dikisaran 5 –10 juta rupiah, rasanya sudah berada di titik aman dan kehidupan terasa “naik”. Bahkan kata Mas Aakar sedikit orang yang berhasil menaikkan taraf hidup dari bawah kemudian masuk ke dalam “middle income trap menjadi naik ke taraf wealth (benar-benar kaya), karena kebanyakan terjebak di dalam lingkaran tersebut.


 
Mas Aakar Abyasa dari Jouska Finansial


Kita itu kan kalau sudah merasa punya gaji aman, pasti mulai berani ambil ini-itu, misalnya ambil cicilan kendaraan dan berhasil lunas. Tapi gak berhenti disitu, karena gaji merasa cukup kendaraan yang sudah ada pun maunya diganti misalnya dari Avanza ganti ke Pajero. Kasus lain lagi, rela ambil cicilan rumah yang lebih besar tapi menggandaikan sertifikat rumah orang tua. Dan contoh-contoh lain, yang intinya kalau gaji naik maka taraf hidup harus ikut naik. Jadi, ciri-ciri dari kondisi middle income trap ini taraf kehidupan kelihatan naik tapi sebenarnya tidak benar-benar naik. Sehingga bisa dikatakan kondisi yang sangat bergantung sekali pada pekerjaan. Kalau tidak ada pekerjaan ya gak makan. Gambaran kasarnya kira-kira begitu.



Kaum perempuan biasanya yang paling banyak godaan, misalnya aja mau pakai tas, punya gaji sekian beli tas merk A, gaji naik 50% ganti beli merk B yang katakanlah merk branded. Nah, ini sudah masuk ke ciri-ciri middle income trap, loh. Hati-hati ya.

Baca juga: Belanja Hemat ala Pasar Tradisional di Pasar Rebo Bedahan



Supaya terhindar dari jebakan middle income trap  gimana? Jawabannya harus disiapkan sedari muda. Masa muda adalah masa penting membentuk karakter dan kebiasaan baik. Bahkan kalau belum berkeluarga, yang single bisa jadi dambaan karena dikenal pandai mengelola keuangan. Iya dong, siapa sih yang gak mau punya pasangan (istri, misalnya) yang pandai dalam sisi vital ini? Karena akan berimbas kepada arus pengeluaran keluarga dan bisa jadi rem supaya keinginan lebih terkontrol.



Memetakan penghasilan akan lebih terarah dibandingkan tidak dipetakan. Artinya, kita akan tahu mana yang prioritas mana yang bukan. Misal saja, kita berinvestasi dengan ikut asuransi kesehatan dan asuransi pendidikan buat anak-anak kelak.

Kebayang dong, ketika suatu saat kita sakit dan bisa tertangani dengan dana yang sudah kita sisihkan setiap bulannya, maka akan lebih meringankan kita dan keluarga tanpa pusing-pusing mesti cari uang kemana. Atau ketika kita sudah memiliki anak kemudian pada saatnya anak memasuki masa-masa sekolah, kita tidak perlu pusing-pusing dengan biaya sekolah yang dari tahun ke tahun merangkak naik, karena ada tabungan pendidikan yang membuat kondisi keuangan kita lebih aman.   



Apa aja sih yang perlu kita lakukan supaya terhindar dari jebakan middle income trap ini?



1. Pahami 3 hal dasar hal ini, yaitu mengecek segala jenis dokumen yang menjadi aset kekayaan, jangan terlalu percaya diri sehingga tidak menyiapkan simpanan finansial untuk masa depan, tentukan tujuan atau rencana kedepan. Ini menurut Mas Aakar.



2. Menginvestasikan sebagian penghasilan dalam bentuk asuransi.



3. Bedakan antara hal–hal yang menjadi kebutuhan dan keinginan.



4. Membuat catatatan arus pemasukan dan pengeluaran dalam rumah tangga. Dari data ini bisa kita lihat secara rinci dan bedakan mana kebutuhan dan keinginan.



5. Buat skala prioritas.



PLUS: Bersyukur dan nikmati semua fasilitas yang sudah ada saat ini. Hal ini membantu kita me-rem kenginan yang seringkali merongrong diri.





Tentang Sinarmas MSIG Life



Sinarmas MSIG Life didirikan tanggal 14 April 1985, PT Asuransi Jiwa Sinarmas MSIG telah mengalami berbagai perkembangan dan perubahan. Hadir pertama kali sebagai PT Asuransi Jiwa Purnamala Internasional Indonesia (PII), untuk kemudian berubah nama menjadi PT Asuransi Jiwa Eka Life.


Dalam perkembangannya, nama perusahaan berganti lagi menjadi menjadi PT Asuransi Jiwa Sinarmas pada 2007 sebelum akhirnya melakukan joint venture dengan Mitsui Sumitomo Insurance Co., Ltd. pada tahun 2011. Sejak saat itu, 50% kepemilikan PT Asuransi Jiwa Sinarmas MSIG (juga dikenal sebagai Sinarmas MSIG Life atau SMiLe) di bawah PT Sinar Mas Multi Artha, Tbk dan 50% dimiliki Mitsui Sumitomo Insurance Co., Ltd.


Sinarmas MSIG Life adalah anak perusahaan PT Sinar Mas Multiartha Tbk. satu dari enam pilar bisnis Sinar Mas yang menyediakan layanan finansial yang terpadu dan menyeluruh, meliputi perbankan, asuransi, pembiayaan, pasar modal, manajemen aset, jasa administrasi saham, keamanan, perdagangan serta industri dan teknologi informasi. PT Sinar Mas Multiartha Tbk juga merupakan perusahaan induk bagi Bank Sinarmas, Asuransi Sinar Mas, Sinarmas Sekuritas and Sinar Mas Multifinance.


Sinarmas MSIG Life melayani lebih dari 790.000 nasabah individu dan kelompok di 69 kota. Tersebar di 113 kantor pemasaran dan 10.500 aparat marketing. Tahun 2013 Brand SMiLe (Sinarmas MSIG Life) diperkenalkan kepada masyarakat luas untuk meningkatkan corporate brand awareness.


Sinarmas MSIG Life dinobatkan oleh Infobank sebagai Digital Brand of the Year 2015 Terbaik Ke-3 untuk kategori Asuransi Jiwa pada bulan Maret 2015. Sementara itu, Majalah Investor mendaulat Unit Bisnis Syariah Sinarmas MSIG Life sebagai Asuransi Jiwa Syariah Terbaik untuk Aset di atas Rp 200 Miliar pada Best Syariah 2015 di bulan Agustus 2015.



Untuk info lebih lengkapnya silahkan akses di www.sinarmasmsiglife.co.id ya, supaya makin paham tentang produk dan layanan asuransi yang ada di Sinarmas MSIG Life.


Pembicara yang hadir saat acara berlangsung. Ki-ka: Bu Vita Itabiliana (Psikolog), Pak Suwandi Sitorus (Sinarmas MSIG Life), dan Mba Didi (Jouska Finansial)



Gimana, kira-kira sudah punya rencana apa nih supaya gak terjebak ke dalam jebakan middle income trap? Semoga 5 langkah tadi menolong ya dan kita jadi lebih aware dengan investasi keuangan di masa depan. Ada yang mau nambahin tipsnya?

Yuk, atur uangmu!







33 komentar:

  1. asyik kemarin narsum-nya mas aakar ... jleb pedes2 tapi bikin nagih eh maksudnya penasaran sama dunia keuangan

    karena yg dia jelasin itu bener semua ya

    BalasHapus
  2. Aahhh, bener banget nih mbak, gara2 gaya kadang merusak tabungan.... Hahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Rusak emang kalo kita gak mawas diri sama masalahh duit ya, huhu

      Hapus
  3. Aaakkk setuju banget sama artikel ini mb. Jangan2 kita sebenarnya berada di zona tidak aman. Aku jg harus punya skala prioritas nih biar nggak pusing nantinya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau gak bikin skala prioritas kadang suka kecolongan emang huhu

      Hapus
  4. Ah benar ini mbak. Harusnya gaji meningkat bukan berarti lifestyle ikutan berubah :)

    BalasHapus
  5. Penting nih biar dapat mengalokasikan sebagian penghasilan dalam bentuk asuransi. Jangan sampai deh terkena jebakan hutang euy :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah iya mba, duh kalo udah berurusan sama hutang serem

      Hapus
  6. Iya kalo banyak gaya emang ribet deh, soalnya kemauan manusia itu ga ada habisnya, merasa kurang terus terus dan terus. Kudu buru2 insaf nih.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makanya gayanya yg diturunin standarnya

      Hapus
  7. Aku pun sedia payung sebelum hujan. Siap2 dana darurat takut ada apa2. Makanya kita jgn sampai terlena ya merasa udah aman tapi ternyata belum.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yes dana darurat menolong banget ya mba, kalau suatu waktu terjadi hal diluar rencana

      Hapus
  8. Betul banget nih, kita memang perlu membedakan kebutuhan dan keinginan. Terlalu banyak keinginan bisa mengganggu pemasukan.

    BalasHapus
  9. Saya jg lagi menimbang2 buka asuransi nih mbak. Soialnya pengalaman banget anak masuk NICU gk ada asuransi huhuhu.
    Btw yg membedakan kebutuhan dan keinginan tu PR banget yaaaaa

    BalasHapus
    Balasan
    1. PR banget, soalnya bias ya, kitanya yang harus meredam supaya gak bablas sama keinginan yang bludak

      Hapus
  10. Hahaha...suka sama kata- kata pembukanya. Banyak yang gitu ya sekarang. Ngos2an buat gaya hidup padahal maaf pendapatan nggak kuat buat ongkosin

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jomplang ya mba, karena sibuk mikirin gaya bukan kebutuhan hidup

      Hapus
  11. Betul betul betul.. *upin ipin mode on.. buat skala prioritas, itu kayaknya yg masih perlu berlatih terus. Suka khilaf kalau liat makanan enak huhuhu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Penyuka makanannnn haha, kudu puasa banyak2 wkwk

      Hapus
  12. Seperti apa yg selalu dikatakan ayah saya bhw hidup manusia itu murah kog krn cm sebatas mkn dan minum tp yg mahal itu gengsinya alias gaya hidupnya. Baru jd karyawan biasa sdh berlagak jadi manajer dan seterusnya. Mknya bnyk orang kaya palsu, punya bnyk brg bagus tp ngutang atau kredit. Ini nih yg jd bumerang utk dirinya sendiri. Hiiy jangan sampai yak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin, moga gak sibuk ngurusin gengsi ya Mak.. Sederhana aja

      Hapus
  13. Setuju banget. Wanita enggak perlu nguprek di dapur.tapi harus melek atur keuangan dengan bijak.

    BalasHapus
  14. Sejak berkeluarga sama punya anak aku jadi melek deh masalah finansial gini. Mau gak mau ya Mel.. :D Tapi emang bener, mesti ada yang diinvestasiin dari yang kita dapat.. Biasanya udah lebih dari 5 tahun baru mulai keliatan hasilnya..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku juga Mbak, soalnya udah ada prioritas ya jadi lebih bisa nahan diri

      Hapus
  15. embeeer. gaya dan gengsi itu lho yang menyebabkan masalah selama ini. aku sendiri sekarang lebih utamakan yg prioritas2 aja. dan semoga kalaupun sudah naik tetep bisa prioritaskan kebutuhan

    BalasHapus