Kamis, 24 Mei 2018

Imunisasi Lengkap Rutin, Bersama Melindungi dan Terlindungi

Imunisasi selalu jadi perdebatan hangat bagi kaum ibu milenial saat ini. Bahkan, tak ayal sampai terjadi debat kusir di grup-grup sosial media antara kalangan pro vaksin vs anti vaksin.




Faktanya, imunisasi menyelamatkan jutaan nyawa dan secara luas diakui sebagai salah satu intervensi kesehatan yang paling berhasil dan efektif (hemat biaya) di dunia. Namun, masih ada 19 juta anak di dunia yang tidak divaksinasi atau vaksinasinya tidak lengkap, yang membuat anak-anak sangat berisiko untuk menderita penyakit-penyakit berpotensi mematikan.

Pada 12 Mei 2012 telah dikukuhkan Global Vaccine Action Plan (GVAP) 2020 yang disahkan oleh 194 anggota negara pada World Health Assembly Ke-60, merupakan suatu kerangka kerja untuk mencegah jutaan kematian akibat penyakit yang dapat dicegah oleh vaksin pada tahun 2020 melalui akses universal untuk imunisasi.

Tujuan GVAP adalah mengukuhkan imunisasi rutin, mempercepat kontrol penyakit yang dapat dicegah dengan vaksin (pemberantasan polio sebagai tahap pertama), memperkenalkan vaksin baru, dan memacu penelitian dan pengembangan teknologi vaksin.


Pekan Imunisasi Dunia 2018


Pekan Imunisasi Dunia yang diperingati pada minggu terakhir bulan April, tahun ini jatuh pada tanggal 24-30 April 2018, memfokuskan tindakan kolektif yang diperlukan dalam menjamin setiap orang terlindungi dari penyakit yang bisa dicegah oleh vaksin.

Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), sebagai organisasi profesi yang mengabdikan dirinya untuk meningkatkan derajat kesehatan dan kesejahteraan anak Indonesia, mengusung tema “Capai Imunisasi Lengkap: Bersama Melindungi dan Terlindungi”.

dr. Aman B. Pulungan (Ketua Umum IDAI)


Tema pada tahun ini mengajak semua orang baik pemerintah sebagai pengambil kebijakan, mitra (misalmya interdepartemen dalam pemerintah, organisasi profesi, LSM, organisasi lain yang peduli pada imunisasi), masyarakat umum, mitra swasta, serta media, agar menambah upaya dalam meningkatkan cakupan imunisasi.


Kekhawatiran Ibu Jika Imunisasi Anak


Topik tentang “imunisasi” memang selalu ngetrend. Gak cuma zaman sekarang, tapi memang dari dulu sudah mencuat. Kata Enyak saya, zaman saya kecil pun gak sedikit ibu yang gak mau membawa anaknya ke posyandu/puskesmas supaya mendapatkan imunisasi. Alasan paling kuat adalah: takut panas.

Ternyata, kekhawatiran “jadul” itu pun menurun ke ibu-ibu zaman now. Belum lagi, kalau ibu-ibu lihat pemberitaan di media televisi atau cetak ada anak yang meninggal lantaran di sana dituliskan “Meninggal Setelah Imunisasi”.

Alamaaak, gimana gak bikin ibu-ibu ketar-ketir kalau disebutkan sampe meninggal segala anak habis diberikan vaksin. Habis baca/nonton berita yang belum tentu shahih itu gak ayal ibu-ibu langsung illfeel sama imunisasi.

Tapi, begitulah kuatnya informasi. Belum diayak aja udah bisa dipercaya, apalagi kalau urusannya sama ibu-ibu. Nyahahaha

Manusiawi jika para orangtua terutama ibu-ibu yang notabene 24 jam bersama anak-anak kemudian harus menerima kenyataan anak-anak malah sakit setelah di imunisasi. Padahal, demam bukan sakit, ia hanya respon tubuh.

Selain takut panas, alasan para ibu gak mau imunisasi anaknya biasanya karena keluarga tidak mengizinkan, tempat imunisasi jauh, sibuk/repot, sering sakit, dan tidak tahu tempat imunisasi.

Pada kurun waktu tahun 2014-2016, terdapat 1.716.659 anak yang belum mendapat imunisasi dan imunisasinya tidak lengkap, dikarenakan alasan-alasan tadi. Oleh sebab itu, pemberian imunisasi universal bagi seluruh anak tanpa kecuali masih merupakan tantangan bagi seluruh pihak yang terlibat dalam upaya promosi kesehatan.

Adakah temen-temen di sini yang berkutat pada alasan-alasan di atas?


Fakta Utama Mengenai Imunisasi


1.Imunisasi mencegah penyakit, kecacatan, dan kematian dari penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi, termasuk tuberkulosis, hepatitis B, difteri, pertusis (whooping, cough, batuk rejan), tetanus, polio, campak, pneumonia, gondongan, diare akibat rotavirus, rubella, dan kanker serviks.

2.Imunisasi sekarang ini diperkirakan mencegah 2 hingga 3 juta kematian setiap tahunnya.

3.Selama 2016, diperkirakan 116,5 jita (sekitar 86%) anak-anak usia di bawah 1 tahun di seluruh dunia menerima 3 dosis vaksin difteri-tetanus-pertusis (DTP3).

4.Sekitar 19,5 juta bayi di dunia masih melewatkan imunisasi dasar. Sekitar 60% anak-anak ini tinggal di 10 negara: Brazil, Republik Demokratik Kongo, Ethiopia, Indan, Indonesia, Iraq, Nigeria, Pakistan, dan Afrika Selatan.

5.Cakupan imunisasi global telah stagnan di 86% tanpa adanya perubahan signifikan selama beberapa tahun terakhir.

6.Terdapat peningkatan penggunaan vaksin baru dan vaksin yang kurang dimanfaatkan.

Agak mencengangkan mengetahui fakta tersebut, pasalnya masih ada 19,5 juta bayi yang melewatkan imunisasi dasar. Padahal, di negara kita sendiri imunisasi dasar lengkap bisa banget kita dapatkan secara gratis dan mudah di posyandu-posyandu atau dengan mengeluarkan biaya sangat terjangkau jika datang ke puskesmas.

“Salah satu contoh imunisasi yang diselenggarakan secara massal, misalnya pemberian vaksin MR (Measless Rubella), yang mana untuk tahap I sudah berjalan pada Agustus-September 2017 untuk Pulau Jawa dan tahap II untuk luar Pulau Jawa yang akan dilaksanakan Agustus-September 2018 mendatang. Kampanye imunisasi MR ini tidak dipungut biaya alias gratis. Hal ini dilakukan agar target cakupan mencapai lebih dari atau sama dengan 95%. Dengan adanya kampanye ini dapat meningkatkan kekebalan masyarakat terhadap campak dan rubella secara cepat. Ungkap salah seorang narasumber yang dalam sambutannya mewakili kementerian kesehatan.




dr. Cissy B. Kartasasmita, selaku Ketua Satgas Imunisasi PP-IDAI menjelaskan, tidak hanya campak rubella, ada penyakit berbahaya lainnya yang dapat dicegah dengan imunisasi dan efektif hasilnya, diantaranya yaitu:

1.Hepatitis B
2.Polio
3.Pertusis
4.Difteri
5.Hib (Haemophyllus influenzae b)
6.Campak
7.Tetanus, dll.

dr. Cissy B. Kartasasmita



Vaksin Aman bagi Anak?

Pertanyaan itu gak jarang timbul di benak para ibu, termasuk saya. Namun, saya pribadi yakin bismillah bahwa vaksin yang digunakan sudah pasti layak edar dan gak sembarangan dalam pembuatannya. Mari kita pahami lebih dulu apa itu vaksin dan vaksinasi.

“Vaksin adalah suatu produk yang menghasilkan kekebalan terhadap penyakit dan dapat diberikan melalui jarum suntik, melalui kulit atau diberikan dengan melalui mulut juga dapat dengan penyemprotan.”

Sedangkan

“Vaksinasi adalah tindakan penyuntikan organisme yang mati atau dilemahkan selanjutnya akan menghasilkan kekebalan tubuh terhadap organisme tersebut.”


dr. Hindra Irawan Satari


dr. Hindra Irawan Satari (Ketua Komnas PP KIPI) dalam seminar Pekan Imunisasi Dunia saat itu menjelaskan bahwa pembuatan vaksin tidak sembarangan, ada tahapan-tahapan khusus, yaitu:
  • Tahap Preklinik, riset dilakukan di laboratorium dan pada binatang, termasuk di dalamnya.
  • Tahap Klinik (diuji pada manusia)
  • Fase I, penelitian dengan skala kecil untuk memastikan keamanan vaksin dan respon kekebalan tubuh.
  • Fase II, clinical trials (skala besar, terutama khasiat dan keamanan vaksin)
  • Fase III, skala luas
  • Fase IV, final, setelah vaksin dilisensi dan digunakan, tujuannya untuk mendeteksi kejadian simpang yang jarabg serta memantau keamanan jangka panjang

Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI)


Apa itu KIPI?

KIPI adalah semua kejadian yang terjadi setelah imunisasi, yang menjadi perhatian dan diduga berhubungan dengan imunisasi, bisa berupa gejala, tanda, penyakit atau hasil pemeriksaan laboratorium.

Demam yang biasa terjadi kebanyakan dianggap KIPI oleh sebagian ibu. dr. Hindra menjelaskan bahwa demam hanya reaksi tubuh, dan beliau menambahkan bahwa tidam semua KIPI akibat vaksin, sehingga para ibu tidak perlu khawatir.

IDAI sendiri telah memiliki komite independen yang mengkaji tentang kejadian yang terjadi pasca anak diimunisasi, komite ini diketuai langsung oleh dr. Hindra Irawan Satari.

WHO sendiri sudah membuat klasifikasi KIPI, yaitu:

1.Reaksi KIPI yang terkait komponen vaksin, contohnya demam sesudah vaksinasi pertusis.

2.Reaksi KIPI terkait cacat mutu vaksin, contohnya invaginasi setelah vaksinasi rotavirus generasi pertama.

3.Kesalahan Prosedur, contohnya penyuntikan vaksin kadaluarsa.

4.Reaksi Anxiety (kecemasan), contohnya reaksi histeris pada anak sekolah, padahal belum dilakukan vaksinasi.

5.Koinsiden (tidak berhubungan), contohnya demam seminggu setelah imunisasi DPT


Badan POM (Pengawasan Obat dan Makanan) pun sangat berperan dalam memastikan mutu vaksin yang diduga penyebab kasus KIPI. Meski telah dilisensi, vaksin tetap dipantau termasuk oleh badan independen yang kompeten seperti BPOM.

Keraguan terhadap Imunisasi


Pada kesempatan seminar tersebut, hadir juga dr. Piprim Basaroh Yanuarso (Ketua I PP IDAI 2017-2020). Sosok beliau oastinya tidak asing bagi kaum ibu muda di jagat dunia maya.

dr. Piprim banyak mengedukasi masyarakat melalui sosial media seperti facebook dan instagram tentang pentingnya imunisasi pada anak. Bahkan, kalau teman-teman perhatikan, di media sosial kini masyarakat sudah terpecah antara pro dan anti vaksin.

dr. Piprim B. Yanuarso



Mengapa isu antivaksinasi cepat meluas dan bikin heboh masyarakat?


  • Menyentuh sisi emosi dan ideologi masyarakat, meski keliru dari segi ilmu dan tanpa bukti shahih.
  • Memanfaatkan pengaruh media sosial dan media massa konvensional.
  • Amat aktif bergerak menyebarkan isu.

Kalau teman-teman perhatikan, bahkan kini grup-grup sosial media antivaksin pun sudah ada. Kaum antivaks ini sering menggemborkan bahaya imunisasi dengan menampilkan meme yang amat banyak, massif dna beragam. Bahkan, semua kejadian lasca imunisasi kerap ditampilkan dan diceritakan sehingga hal yang belum tentu benar meresahkan masyarakat terutama para ibu. Padahal, tidak semua kejadian pasca imunisasi disebabkan karena vaksin (imunisasi).

Peran media dan surat kabar juga sangat berpengaruh, apalagi ibu-ibu yang notabene sering berinteraksi dengan televisi. Ketika berita imunisasi tersebar maka langsung ditelan mentah-mentah, tanpa tabayyun lebih dulu.

Vaksin Haram?


Bagi seorang muslim, menggunakan sesuatu yang halal adalah suatu keharusan, bahkan termasuk urusan vaksin yang sudah jelas suatu bahan yang masuk ke dalam tubuh, layaknya makanan yang dimakan.

Pro kontra halal haram vaksin ini sejak lama sudah ramai diperbincangkan. Salah satu yang menjadi “bahan” bagi kaum antivaks termasuk status kehalalan vaksin ini.  DR. H. Asrorun Ni’am Sholeh (Sekjen MUI) hadir memberikan pemaparan tentang status hukum vaksin, dalam hak ini khususnya bagi umat islam.

DR. H. Asrorun Ni'am Sholeh (MUI)


Dalam Fatwa MUI no. 4 tahun 2016 tentang imunisasi, pada poin no. 5 disebutkan bahwa:

Dalam hal jika seseorang tidak diimunisasi akan menyebabkan kematian, penyakit berat, atau kecacatan permanen yang mengancam jiwa, berdasarkan pertimbangan ahli yang kompeten dan dipercaya, maka imunisasi hukumnya wajib.


Apakah Vaksin mengandung Babi?


Dijelaskan bahwa dalam proses pembuatannya bersinggungan dengan bahan bersumber babi. Namun, pembuatan vaksin telah melewati berbagai rangakaian proses dimana hasil akhir produk bebas dari zat haram. Hal ini termasuk dalam istilah yaitu istihalah.

Ibnu Qoyyim ra. menjelaskan:

“Dan Allah mengeluarkan benda suci dari benda najis dan mengeluarkan benda najis dari benda suci”.

Jadi, patokannya bukan pada benda asal, tapi pada sifat yang terkandung pada benda tersebut saat itu. Tak boleh menetapkan hukum najis jika telah hilang sifat dan berganti namanya.

Istihalah juga bisa dilihat pada beberapa hal ini:

1.Air Mani: najis (madzhab selain Syafi’i) tapi bayi suci.

2.Buah anggur halal, tapi menjadi haram ketika sudah menjadi whine.


Imam As-Suyuthi ra:

Hukum asal dari segala sesuatu selaim ibadah adalah mubah (boleh) sampai ada dalil yang menunjukkan akan keharamannya. (Al-Asyban Wa An-Nadzaair, hal.60)


Kesimpulan untuk keraguan akan imunisasi ini, Dr. H. Asrorun Ni'am menyimpulkan,  bahwa:

1.Imunisasi untuk kepentingan kesehatan sangat dianjurkan, bahkan dapat dikatakan wajib jika berpegang kepada sadudzdzar’iah.

2.Imunisasi dengan dugaan adanya campuran bahan haram, dan vaksin tersebut sudah dicuci dengan bahan kimiawi, maka hukumnya menjadi halal (suci). Hal ini dengan dasar istihalah tadi.

3.Jika ada indikasi keharaman, maka hukumnya tetap boleh dengan alasan: darurat dan mengambil mudhorot yang lebih ringan.

Alhamdulillah. Semoga tulisan ini bisa menambah wawasan teman-teman pembaca dan menambah keyakinan bahwa vaksin bukan benda yang haram dan haris dijauhi. Namun, kembali lagi kepada keputusan masing-masing orangtua dalam hal ini yakni mau imunisasi atau tidak. Tapi, orangtua tetap wajib berikhtiar melindungi dan menjaga anak-anak agar haknya terpenuhi, termasuk urusan kesehatan.


Akhirnya, buat para Moms yang memberi vaksin kepada anak, jangan lupa buat memantau jadwal imunisasi, supaya status imunisasinya lengkap dan insya Allah jauh-jauh dari penyakit berbahaya.

.

Salam,
Amelia Fafu



Desclaimer: Tulisan ini tidak bermakud mengadu domba, menyinggung atau menyalahkan pihak manapun apalagi mengajak debat. Tulisan ini murni sebagai report dan berbagi informasi kepada pembaca sekalian.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar