Rabu, 27 Maret 2019

Wujudkan Generasi Emas 2045 dengan Mendukung Aksi Nutrisi Generasi Maju Bersama SGM Eksplor



Bicara nutrisi anak pastinya gak jauh-jauh dari pemberian asupan kepada anak di rumah. Pernah galau gak Mak? Pastinya ya.
Karena konsen memastikan nutrisi anak-anak kota di rumah itu ada di tangan ibunya. Takut nutrisi mereka belum terpenuhi dengan baik.

Biasanya, ibu akan mulai berkreasi saat anak memasuki usia MPASI alias mulai bisa dikenalkan dengan makanan sesudah 6 bulan pertama pemberian ASI.

Sewaktu Anin dan Aura kecil, saya juga gitu. Wah, pokoknya seru-seru gimana gitu ya. Karena, sibuk bikin jadwal harian makanan apa yang bakal di makan, trus nyiapin alat-alat makan yang unyu-unyu supaya anak-anak bisa terstimulasi nafsu makannya.

Mengapa urusan makan ini menjadi penting di masa awal? Karena, menurut para ahli dari yang saya baca, masa MPASI ini masa menentukan kebiasaan pola makan si kecil sampai dia besar nantinya. Otomatis, membuat ibu biasanya belajar disiplin mengajak anak makan, sehingga ketika dia besar nanti pola makannya sudah terbentuk, dan diharapkan anak lebih suka makanan rumahan ketimbang jajan di luar.

Kita bisa lihat sendiri kan, jajanan anak sekarang itu bisa dibilang jauh dari kata aman. Karena, makanan yang dijual banyak mengandung pengawet, pemanis buatan, dan zat berbahaya lainnya. Kalau ini terus menerus menjadi asupan yang masuk ke tubuh anak, kemungkinan terbesar tubuh anak bisa menderita penyakit atau menyimpan suatu penyakit di suatu hari nanti, apalagi kalau nutrisinya gak dipenuhi dan makan makanan sembarangan yang gak dipantau orangtua, si kecil bisa loh mengalami pertumbuhan terhambat atau istilah kerennya itu stunting. Pokoknya… Anak sehat itu kebahagiaan yang gak bisa dibeli dengan apapun. Setuju?

Baca Juga: Rasanya Punya Anak Sehat

Anak yang sehat dari rumah akan menjadi awal terbentuknya kondisi generasi penerus bangsa ini. Bayangkan, kalau anak-anak Indonesia sakit, masa depan bangsa bakal terganggu, toh?! Karena, anak-anak saat ini yang akan meneruskan perjuangan nantinya.

Anak aktif salah satu tanda bahwa dia sehat


Berdasarkan Data dari Pusdatin, Kemenkes Tahun 2017, tercatat ada lebih dari 33 juta anak usia dini yang mendominasi piramida Indonesia saat ini.

Dukungan seluruh masyarakat mutlak diperlukan mengingat Indonesia diprediksi akan menjadi negara maju di tahun 2045. Makanya, gak sedikit program yang banyak berjalan saat ini adalah untuk membentuk “Generasi Emas Tahun 2045”.


SGM Ajak Masyarakat Mendukung Gerakan Aksi Nutrisi Generasi Maju

Beruntung kali ini, saya diundang menghadiri press conference yang diselenggarakan oleh SGM pada hari Rabu 20 Maret 2019, berlokasi di Hotel Hermitage, Jakarta.

Hadir saat itu 4 orang narasumber, yaitu:
1.Ibu Meida Octarina, MCN., selaku Asisten Deputi Ketahanan Gizi, Kesehatan Ibu dan Anak, dan Kesehatan Lingkungan, Kemenko PMK.
2.Ibu dr. Nurul Ratna Mutu Manikam, M. Gizi, SpGk., dokter gizi klinis.
3.Ibu Daisy Indira Yasmine, S. Sos., M. Soc. Sci., sosiolog UI.
4.Ibu Astrid Prasetyo, Marketing Manager SGM Eksplor., dan
5.Alyssa Soebandono, aktris sekaligus ibu dari 2 anak.

Narasumber


Acara diawali dengan penampilan sebuah aksi drama musikal yang menurut saya sungguh asyik. Udah lama gak liat secara langsung drama musikal seperti itu.

Pementasan drama musikal

Potret Keluarga dalam kisah drama musikal yang dipertunjukkan


Drama menceritakan tentang sebuah keluarga, orangtua yang mendukung anaknya untuk meraih cita-cita dan sukses di masa depan, dengan pemberian nutrisi saat sebelum memulai aktivitas.

Acara kemudian berlanjut dengan pemaparan-pemaparan yang disampaikan oleh para narasumber yang hadir.

MC memandu jalannya acara


Masa depan bangsa ada di tangan para pemuda. Nampaknya, kita gak asing dengan ungkapan seperti itu ya. Bahwa, masa depan suatu bangsa ini ditentukan oleh kaum muda-nya kelak. Seperti yang dikatakan oleh Ibu Meida Octarina, bahwa anak-anak yang sehat dan berkualitas merupakan harapan terbaik untuk masa depan bangsa. Sebagai kelompok populasi yang besar, lebih dari 33 juta anak Indonesia ini akan menjadi penggerak roda kemajuan kedepannya. Sehingga, bisa dibayangkan seperti apa majunya negara kita jika setiap anak dari jumlah tersebut memberikan ide, berinovasi, dan berkarya sesuai kemampuan terbaik mereka.

Ibu Meida Octarina 


Pemerintah punya komitmen membangun SDM berkualitas dengan mengembangkan kualitas tersebut di berbagai aspek, slaah satunya kesehatan. Misalnya, pada program yang kita kenal seperti “GERMAS” alias Gerakan Masyarakat Hidup Sehat yang dicanangkan oleh Kementerian Kesehatan seperti yang kita ketahui.

Selain pada aspek kesehatan, ada pendidikan, IPTEK, dan kebudayaan yang perlu dikembangkan untuk membangun SDM saat ini. Tentu saja hal ini dilaksanakan dengan kolaborasi baik pemerintah dan sektor swasta.

Bahkan, menurut Ibu Daisy Indira Yasmine, Sosiolog UI mengatakan bahwa, di tahun 2040 Indonesia akan mendapatkan bonus demografi pertumbuhan. Dimana di tahun itu, Indonesia diprediksi memiliki penduduk dengan rentang usia produktif (usia 15-64 tahun) lebih banyak yaitu sekitar 64% dibanding usia tidak produktifnya, dari total penduduk yang diproyeksikan 297 juta jiwa (Data: Bappenas).

Ibu Daisy Indira Yasmine, Sosiolog UI 


Hal tersebut tentu saja mengacu pada kebutuhan masyarakat Indonesia, yaitu memastikan kehidupan yang sehat dan mempromosikan kesejahteraan untuk semua usia. Yang mana ini merupakan salah goals dari Sustainable Development (Pembangunan Berkelanjutan) nomor 3 yaitu, perilaku hidup bersih dan sehat dan hak anak, terpenuhinya nutrisi yang sesuai.

Tentu saja, untuk mewujudkan SDM yang berkualitas, masyarakat harus menyadari bahwa itu dimulai dengan pemberian nutrisi yang sesuai dengan tahapan usianya.

Lalu, siapakah yang perlu terlibat dalam gerakan pengembangan SDM ini?



Jawabannya adalah masyarakat yaitu kita, negara, dan dunia.

Secara tidak langsung kita akan terlibat dan tidak bisa tutup mata akan hal ini, karena masyarakat adalah pemeran utama untuk mewujudkan SDM terbaik suatu negara itu sendiri. Keterlibatan ini yang dikenal dengan istilah Public Engagement atau Keterlibatan Publik.

Mengapa kita perlu terlibat?

Sebab, kita adalah aktor bukan obyek pembangunan. Kita sendiri punya kepentingan akan kualitas kehidupan yang sehat dan lebih baik kini dan di masa depan.

Gak hanya itu loh, baik warga, akademisi, pemerintah, dan pelaku usaha & industri pun memiliki keterlibatan dalam membangun kehidupan yang lebih baik tadi. Tentunya, masing-masing menjalankan peran sesuai dengan tugasnya.

Untuk bisa terlibat, kita perlu tahu 3 hal berikut:
1.Tahu isu yang sedang terjadi,
2.Inisiatif, melakukan aksi nyata,  dan
3.Ajak orang lain, dan viralkan (ramaikan).

Sehingga, tentu saja akan ada keuntungan yang kita raih dalam Aksi Nutrisi Generasi Maju ini. Apa itu?

1.Hidup  lebih baik,
2.Peduli pada keluarga, komunitas, negara, dan masa depan dunia,
3.Menjadi bagian dari sesuatu yang besar, dan
4.Mencapai hidup sehat dan bahagia.

Untuk mencapai itu semua, dr. Nurul Ratna Mutu Manikam mengatakan bahwa nutrisi adalah isu penting dalam pencapaian goal dari Sustainable Development.

dr. Nurul Ratna Mutu Manikam




Nutrisi optimal yang diberikan kepada anak di 1000 hari pertama kehidupannya akan menjadi modal anak-anak untuk menjadi penerus bangsa ini kelak.

Jangan salah, nutrisi itu dimulai sejak tahap konsepsi loh. Yaitu tahap dimana seorang perempuan akan menjadi calon ibu, yaitu dengan mengkonsumsi asupan bernutrisi sejak awal.

Ibu akan menjadi role model bagi anak-anaknya kelak, termasuk dalam hal memilih makanan. Sehingga, ketika ibu tidak suka sayur jangan sampai hal ini ditularkan kepada anaknya. Karena anak-anak usia 1-6 tahun rentan sekali mengalami masalah gizi.




Jadi, kita nih para ibu punya tugas untuk menjadikan anak-anak kita menyukai makanan dengan nutrisi yang baik, karena lagi-lagi itu modal awal membentuk generasi dengan kualitas baik pula.

Sepakat dengan hak itu, hadir juga loh kembaran saya saat acara kemarin, yaitu Mba Alyssa Soebandono, aktris yang juga ibu dari 2 orang anak. Ehehehe *ditimpuk

Alyssa Soebandono, saat memberikan sudut pandang sebagai seorang ibu


Kata Mba Alyssa, ia pun mengoptimalkan nutrisi bagi anak-anaknya. Karena, anak-anak yang akan meneruskan perjuangan orangtua kelak, jadi harus dipersiapkan dengan baik sejak kecil. Tidak hanya itu, saat masa kehamilan pun jangan sampai lupa memperhatikan masa perkembangan calon anak-anak kita. Memastikan calon generasi penerus bangsa ini tumbuh dengan baik agar pembangunan bangsa ini di masa depan berjalan dengan baik pula dan kelak mereka pun bisa menikmati kehidupan yang lebih baik.

Tentang Gerakan Aksi Nutrisi Generasi Maju

SGM Eksplor mengajak masyarakat untuk mendukung gerakan sosial Aksi Nutrisi Generasi Maju. SGM Eksplor juga kembali melakukan kegiatan edukasi nutrisi di 5 kota besar, seperti Yogyakarta, Jakarta, Surabaya, Bandung, dan Medan.

Gerakan ini diharapkan mampu memberikan edukasi nutrisi lengkap dan stimulasi yang tepat serta mengajak masyarakat untuk bersama mendukung 33 juta anak Indonesia agar dapat tumbuh dan optimal sehingga mendorong terciptanya generasi yang berkualitas dan progresif yang memotori kemajuan Indonesia di masa depan. Ungkap Mba Astrid Prasetya (SGM).




Masyarakat bisa melakukan aksi ini dengan cara melakukan upload 1 foto dengan menggunakan frame profil khusus “Gerakan Aksi Nutrisi Generasi Maju SGM Eksplor” kemudian share ke media sosial masing-masing. 1 foto sama halnya untuk 1 dukungan nutrisi berupa 1 kotak susu SGM Eksplor untuk anak Generasi Maju.

***

Sebagai ibu bagi anak-anak kita di rumah, semoga kita bisa dengan optimal memberikan nutrisi terbaik buat calon generasi penerus bangsa ini ya. Karena, merekalah yang bakal meneruskan perjuangan kita. Dengan begitu, tujuan menjadikan anak-anak Indonesia menjadi Generasi Emas di tahun 2045 bisa terwujud, tentunya dimulai dari rumah kita sendiri.

Semangat, Mak. Yuk, dukung anak Indonesia menjadi Generasi Maju!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar