Selasa, 21 Mei 2019

Hati-Hati, Sekolah Bisa Jadi Agen Pembawa Paham Radikalisme!




Paham radikalisme, sebenarnya sudah lama sekali ada. Namun, saya pibadi atau umumnya kita barangkali mengenal istilah ‘radikal’ ini ketika gerakan-gerakan teroris mulai masuk dan beragam runutan kejadian pemboman terjadi di negara kita.


Radikalisme, menurut para ahli, merupakan suatu ideologi (ide atau gagasan) dan paham yang ingin melakukan peubahaan pada sistem sosial dan politik dengan menggunakan cara-cara kekerasan/ekstrim.

Masih ingatkah Anda dengan salah seorang siswa di suatu sekolah swasta di Bogor, yang terlibat dengan aksi bom bunuh diri di Jakarta beberapa tahun silam? Jika masih ingat, tentu saja kita yang mendengar kabar tersebut sungguh pilu, miris, bahkan tak habis pikir bagaimana ia bisa ‘rela’ menghabisi nyawanya dengan cara seperti itu. Pastinya, orangtua dan tentu saja pihak sekolah sungguh tak menyangka dan pihak yang paling terpukul atas kematian anak tersebut.

Sebagai guru, saya pun menyayangkan aksi ‘dramatis’ yang dilakukan anak tersebut. Sebagai kaum yang terpelajar (karena belajar di bangku sekolah), pastinya tak lewat namanya materi bela negara , cinta tanah air, dan beragam materi yang terangkum dalam mata pelajaran PKN dipaparkan oleh para guru di sekolah.

Apakah paham radikalisme berhenti pada kasus tersebut? Oh, tentu tidak! Menurut saya pribadi, gerakan radikalisme pelajar saat ini bukan lagi tentang bagaimana caranya supaya bisa ngebom atau mati syahid di jalan Allah, katanya, atau ngebom umat agama lain yang sedang ibadah, eits, bukan!

Anda harus tahu. Tenyata, aksi radikal anak-anak muda saat ini itu dimulai dari aksi tawuran, loh! Bahkan, ada yang menganggap aksi mereka itu layaknya aksi kebenaran dengan dalih ‘membela harga diri sekolah’. Yang bikin kaget lagi, aksi mereka diiringi dengan kalimat tahlil bahkan ketika wajah mereka terkena sabetan pedang samurai, kalimat-kalimat thoyyibah pun terlontar dari mulu-mulut mereka! OMG...

Suatu waktu, saya pernah bertanya kepada siswa saya di sekolah dengan pertanyaan, apa untungnya bagi mereka dengan melakukan aksi tawuran? Lantas, jawaban mereka cukup membuat saya miris mendengarnya. Seru, membela teman, membela harga diri dan nama sekolah, katanya, bahkan ada yang nyeletuk jihad!

Yups, beberapa siswa saya di sekolah pun tak luput dari aksi tawuran. Bahkan, sangat terencana dan dengan penyediaan logistik alias alat tawuran berupa senjata tajam, aktor utama, pengiring, dan berbagai dukungan lainnya termasuk yang menjadi tim dokumenter aksi tawuran.

Drop Out alias dikeluarkan secara tidak hormat adalah ganti rugi atas aksi bodoh siswa yang melakukan aksi tawuran.

:::


Secara tidak langsung, aksi tawuran ini bak bibit-bibit aksi radikal yang jika tidak segera diputus mata rantainya, maka akan terus tumbuh dan tumbuh. Tak menolak kemungkinan, bibit-bibit ini bisa tumbuh dari sekolah-sekolah.

Sekolah yang biasanya tidak menjalankan tindak pendisiplinan siswanya, sekolah yang hanya mencari kuantitas pengisi kelasnya, sekolah yang tidak menjalankan visi-misi mendidik calon generasi masa depan bangsa.

Yups, jangan salah. Ada kok sekolah seperti itu. Makanya, saya tulis ‘tidak menjalankan’ bukan ‘tidak punya’.

Sekolah tentu saja sebuah lembaga yang notabene adalah lembaga yang menjalankan pendidikan dan pembelajaran. Makna pendidikan di sini tentu saja sangat luas, kita semua paham itu. Secara tidak langsung, sekolah ibarat tempat belajar bagaimana seseorang belajar tentang arti toleransi atas keberagaman, terlebih urusan agama. Sekolah ibarat laboratorium bagi siapa saja yang mau belajar tentang persaudaraan, persatuan, dan kesatuan.

Namun, bagaimana paham radikal ini bisa masuk ke dalam pemikiran anak muda alias pelajar? Ini yang harus disadari dan tentunya dicegah oleh banyak pihak termasuk lembaga bernama sekolah, selain pondasi utama yang berasal dari rumah (keluarga).

Langkah yang bisa dilakukan dalam mencegah paham radikal masuk ke dalam ideologi peajar, misalnya:


1.Belajar di Kelas. Belajar di kelas tentu saja dimulai dari siswa mendapat materi pelajaran seperti Pendidikan Kewarganegaraan, Pendidikan Agama Islam, dll. Sebagai dasar akan pengetahuan mereka, betapa pentingnya nilai-nilai persatuan, kesatuan, nasionalisme, toleransi atas keberagaman, dll.

2.Mengadakan seminar atau talkshow yang membahas Nasionalisme dan Kebangsaan. Kegiatan ini bisa juga menjadi pengetahuan di kalangan pelajar dalam memahami makna persatuan dan kesatuan bangsa.

3.Mengadakan kegiatan Pelatihan Bela Negara. Kegiatan ini bisa saja dilakukan, meski sejauh ini hanya unit-unit khusus, seperti Kegiatan Pramuka, Paskibra, dan sejenisnya.

4.Mengikuti kegiatan Ekskul bagian Bela Negara, seperti Kegiatan Pramuka dan Paskibra.

5.Mencegah orang asing masuk ke dalam lembaga sekolah dan mewaspadai paham-paham asing yang masuk.

6.Curigai tindakan-tindakan dan pemikiran aneh yang muncul jika terkait dengan idelologi, terutama yang bertentangan dengan nilai-nilai kebangsaan.

7.Tidak terprovokasi.

:::

Sesungguhnya, masih banyak hal lain yang bisa kita lakukan agar paham radikal tidak merasuk ke dalam pemikiran calon generasi penerus bangsa saat ini. Sebagai guru, tentu saja saya tidak boleh bosan memberikan nasihat yang saya bisa kepada siswa-siswi saya di sekolah. Sejauh ini melakukan penjelasan berbagai akibat dari tindakan-tindakan negatif radikal, sebut sja tawuran sering saya sampaikan ketika ada sela waktu saat belajar di kelas.


Sebab, anak-anak pelajar di sekolah inilah biasanya jadi sasaran empuk masuknya beragam ideologi, ketika ada yang masih labil, bingung, maka mudah saja paham-paham yang bertentangan dengan paham kedaulatan RI itu bisa dengan mudah masuk.

Jadi, bisa dibayangkan, dengan jumlah siswa yang pastinya tak sedikit di sekolah-sekolah, jika paham radikal atau paham-paham bertentangan dengan NKRI masuk dengan mudah, maka anggap saja siswa yang ‘terjangkit’ itu akan menjadi agen radikal, pemberontak, pemecah nilai-nilai persatuan dan kesatuan.

:::

Akhirnya, semoga pelajar-pelajar yang ada saat ini menjadi bibit-bibit pemersatu bangsa demi terselenggaranya negara yang aman, damai, tenteram, ya.

Ada yang punya saran atau ide lain dalam mencegah paham radikal  buat anak milenial kita? Share yuk di komentar :)


Salam hangat,

Amelia Fafu,
a Teacher


Tidak ada komentar:

Posting Komentar